Tidak satupun negara di planet bumi ini …

Tidak satupun negara di planet bumi ini di mana penduduknya tidak mengkritik negrinya sendiri. Seperti pepatah yang sangat terkenal ini:

“Orang kaya belum tentu bahagia … apalagi orang miskin!”.

Kalau di negara yang superpower plus makmur rakyatnya masih kurang puas dan gencar mengkritik negerinya, maka jangan garuk-garuk kepala kalau sebagian besar penunggu republik mimpi Indonesia ini pun mengkritik tanah air beta, di mana aku berdiri, jadi pandu ibuku.

Tetapi menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Siapakah yang bertanggung jawab atas kualitas bangsa kita yang tercinta ini? Apakah saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air meletakkan masa depan republik ini di pundak segelintir orang di ujung piramid kekuasaan?

Bayangkan sebuah kelas di sekolah antah berantah. Para murid dan orang tuanya ngedumel, ngomel-ngomel panjang lebar, karena guru-guru dianggap tidak bermutu. Sementara para murid sibuk membolos dan mencontek atau asyik main video game semalaman. Tentu saja para guru suatu saat akan pensiun dan digantikan oleh generasi berikutnya, yang -apa boleh buat- diambil dari himpunan pemuda-pemudi yang dulu suka mencontek, membolos, dan main video game itu. Nah, kini giliran mereka-lah untuk menjadi sasaran kritik-kritik yang dulu pernah mereka lontarkan ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.

Contoh di atas tentu saja sangat dibesar-besarkan. Lagipula, contoh di atas berasal dari negara antah-berantah, bukan dari Indonesia. Tetapi moral of the story-nya jelas: kualitas pendidikan adalah tanggung jawab semua orang. Semua orang artinya: termasuk para orang tua, dan tentu para murid juga! Seorang murid bukan cuma dididik oleh bapak/ibu guru di sekolah, tetapi juga dididik oleh orang tua mereka, masyarakat, teman-teman, sanak saudara, buku atau komik yang dibaca, film-film yang ditonton, video game, dan jangan dilupakan acara-acara di televisi. Jika anda dan saya bicara tentang “pendidikan”, mohon jangan dilupakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mencakup semua hal yang baru saja dibeberkan itu.

Contoh lain. Wakil-wakil rakyat di DPR.
Rakyat kita ini memang cenderung pelupa. Mereka lupa bahwa para wakil rakyat yang mereka caci maki itu dipilih dari tengah-tengah mereka. Dengan kata lain, para pencaci-maki itu (saya berani bertaruh) akan melakukan hal yang persis sama jika seandainya mereka yang menjadi wakil rakyat.

Kualitas wakil rakyat mencerminkan kualitas rakyat yang diwakilinya. Itulah sebabnya para wakil rakyat itu disebut … wakil rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.