Garis keras?
Belakangan ini saya agak sering mendapat undangan untuk acara diskusi lintas bangsa. Meskipun sudah saya tekankan bahwa saya ini non-muslim, namun selalu saja muncul pertanyaan (terutama dari orang amrik) tentang islam di Indonesia. Lebih tepatnya, tentang gerakan islam ekstrim di Indonesia. Jawaban spontan adalah bahwa gerakan semacam itu tidak mewakili mayoritas muslim di indonesia yang pada dasarnya bersifat moderat. Namun itu tentu saja adalah pendapat saya pribadi.
Untuk lebih dapat memberi jawaban yang lebih akurat, maka sebelum diskusi berikutnya, saya membaca berbagai tulisan dari berbagai kalangan: intelektual muslim, pemimpin pondok pesantren, penulis-penulis blog, dosen muslim indonesia yang mengajar di amrik , termasuk juga ujung-ujung spektrum, baik itu itu dari Jaringan Islam Liberal atau Jaringan islam emansipatoris maupun dari golongan garis keras (FPI, JI, dkk).
Yang menarik adalah bahwa acapkali tulisan-tulisan rekan-rekan muslim di berbagai milis dan forum yang saya ikuti tidak dapat ditempatkan secara tepat pada golongan tertentu. Memang jelas bukan liberal, tetapi sebenarnya juga bukan golongan keras, dan ternyata juga bukan moderat (di tengah-tengah). Karena itu tulisan-tulisan tersebut terpaksa tidak dimasukkan di dalam penjelasan-penjelasan di berbagai diskusi itu.