About This Blog
Tidak satupun negara di planet bumi ini …
Posted in Points of View on May 19, 2008 by David G.Tidak satupun negara di planet bumi ini di mana penduduknya tidak mengkritik negrinya sendiri. Seperti pepatah yang sangat terkenal ini:
“Orang kaya belum tentu bahagia … apalagi orang miskin!”.
Kalau di negara yang superpower plus makmur rakyatnya masih kurang puas dan gencar mengkritik negerinya, maka jangan garuk-garuk kepala kalau sebagian besar penunggu republik mimpi Indonesia ini pun mengkritik tanah air beta, di mana aku berdiri, jadi pandu ibuku.
Tetapi menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
Siapakah yang bertanggung jawab atas kualitas bangsa kita yang tercinta ini? Apakah saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air meletakkan masa depan republik ini di pundak segelintir orang di ujung piramid kekuasaan?
Bayangkan sebuah kelas di sekolah antah berantah. Para murid dan orang tuanya ngedumel, ngomel-ngomel panjang lebar, karena guru-guru dianggap tidak bermutu. Sementara para murid sibuk membolos dan mencontek atau asyik main video game semalaman. Tentu saja para guru suatu saat akan pensiun dan digantikan oleh generasi berikutnya, yang -apa boleh buat- diambil dari himpunan pemuda-pemudi yang dulu suka mencontek, membolos, dan main video game itu. Nah, kini giliran mereka-lah untuk menjadi sasaran kritik-kritik yang dulu pernah mereka lontarkan ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.
Contoh di atas tentu saja sangat dibesar-besarkan. Lagipula, contoh di atas berasal dari negara antah-berantah, bukan dari Indonesia. Tetapi moral of the story-nya jelas: kualitas pendidikan adalah tanggung jawab semua orang. Semua orang artinya: termasuk para orang tua, dan tentu para murid juga! Seorang murid bukan cuma dididik oleh bapak/ibu guru di sekolah, tetapi juga dididik oleh orang tua mereka, masyarakat, teman-teman, sanak saudara, buku atau komik yang dibaca, film-film yang ditonton, video game, dan jangan dilupakan acara-acara di televisi. Jika anda dan saya bicara tentang “pendidikan”, mohon jangan dilupakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mencakup semua hal yang baru saja dibeberkan itu.
Contoh lain. Wakil-wakil rakyat di DPR.
Rakyat kita ini memang cenderung pelupa. Mereka lupa bahwa para wakil rakyat yang mereka caci maki itu dipilih dari tengah-tengah mereka. Dengan kata lain, para pencaci-maki itu (saya berani bertaruh) akan melakukan hal yang persis sama jika seandainya mereka yang menjadi wakil rakyat.
Kualitas wakil rakyat mencerminkan kualitas rakyat yang diwakilinya. Itulah sebabnya para wakil rakyat itu disebut … wakil rakyat.
Garis keras?
Posted in Uncategorized on May 10, 2008 by David G.Belakangan ini saya agak sering mendapat undangan untuk acara diskusi lintas bangsa. Meskipun sudah saya tekankan bahwa saya ini non-muslim, namun selalu saja muncul pertanyaan (terutama dari orang amrik) tentang islam di Indonesia. Lebih tepatnya, tentang gerakan islam ekstrim di Indonesia. Jawaban spontan adalah bahwa gerakan semacam itu tidak mewakili mayoritas muslim di indonesia yang pada dasarnya bersifat moderat. Namun itu tentu saja adalah pendapat saya pribadi.
Untuk lebih dapat memberi jawaban yang lebih akurat, maka sebelum diskusi berikutnya, saya membaca berbagai tulisan dari berbagai kalangan: intelektual muslim, pemimpin pondok pesantren, penulis-penulis blog, dosen muslim indonesia yang mengajar di amrik , termasuk juga ujung-ujung spektrum, baik itu itu dari Jaringan Islam Liberal atau Jaringan islam emansipatoris maupun dari golongan garis keras (FPI, JI, dkk).
Yang menarik adalah bahwa acapkali tulisan-tulisan rekan-rekan muslim di berbagai milis dan forum yang saya ikuti tidak dapat ditempatkan secara tepat pada golongan tertentu. Memang jelas bukan liberal, tetapi sebenarnya juga bukan golongan keras, dan ternyata juga bukan moderat (di tengah-tengah). Karena itu tulisan-tulisan tersebut terpaksa tidak dimasukkan di dalam penjelasan-penjelasan di berbagai diskusi itu.
Daylight Saving Time
Posted in Uncategorized on March 9, 2008 by David G.Di negara-negara barat ada kebiasaan yang disebut daylight saving time. Yaitu, memajukan jam anda 1 jam pada awal summer, dan mengembalikannya ke waktu semula pada awal musim gugur.
Pada hari minggu ke dua bulan maret (9 maret 2008), ketika jam menunjukkan 1:59 dini hari, anda mengubahnya menjadi 3:00 am (dini hari).
Akibatnya, anda harus berangkat kerja lebih awal. Kalau biasanya anda berangkat jam 7 pagi, maka anda berangkat pada jam “7 pagi” yang baru, yang sama dengan jam “6 pagi” waktu sebelumnya.
Tentu saja, anda akan pulang kerja lebih awal juga. Kalau biasanya anda pulang jam 5 sore, maka sekarang anda pulang jam “5 sore” , yang tentu saja sama dengan jam “4 sore” waktu sebelumnya.
Pada minggu pertama November (2 november 2008), anda mengembalikan jam anda ke jam yang normal. Pada jam 1:59 dini hari anda mengubah jam anda menjadi 1:00 am (dini hari).
Michael Averbook knows what he should do to cope with the start of daylight-saving time, when clocks jump ahead one hour.
But with a fraternity mixer on tap for Saturday night, the University of Michigan freshman said turning in earlier “probably isn’t going to happen.”
“I hate losing an hour of sleep,” he said. “It’s probably going to be pretty bad.”
Daylight-saving time kicks in at 2 a.m. Sunday, and it’s bad news for the sleep deprived, which is pretty much all of us, nowadays.
Todd Arnedt, director of the Behavioral Sleep Medicine program at the University of Michigan Sleep Disorders Center, suggested taking a nap on Sunday. “But not too close to bedtime,” he said. “A good rule of thumb for a nap is to keep it to 30 minutes to an hour, in the late morning, early afternoon.”
Losing that hour can lead to sleepiness, and yes, you should be careful about being drowsy behind the wheel or operating machinery.
Try sleeping a bit more for the next few days, adhere to a regular bedtime, and be careful about drinking or taking stimulants too late at night, said Arnedt.Sound sleepers adjust quickly, though for some, such as the patients at the U-M center who are experiencing sleeping disorders, it may take substantially longer.
That’s not much consolation to people like Chris Stier, 56. “I’m really bitter about it,” she said. She enjoys going to the gym in the morning, so, she said, “I already go to bed by 10.”
(source: here)
Common Sense
Posted in Points of View on January 23, 2008 by David G.“Common-sense is part of the home-made ideology of those who have been deprived of fundamental learning, of those who have been kept ignorant. This ideology is compounded from different sources: items that have survived from religion, items of empirical knowledge, items of protective skepticism, items culled for comfort from the superficial learning that is supplied. But the point is that common-sense can never teach itself, can never advance beyond its own limits, for as soon as the lack of fundamental learning has been made good, all items become questionable and the whole function of common-sense is destroyed. Common-sense can only exist as a category insofar as it can be distinguished from the spirit of inquiry, from philosophy.”
- John Berger
